POTENSI PEMANFAATAN EKOENZIM AIR CUCIAN BERAS (ACB) SEBAGAI BIOPESTISIDA DAN BIOFERTILIZER

Authors

  • Rita Noveriza Rita Noveriza Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Jalan Tentara Pelajar No 3 Bogor
  • Melati Melati Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Jl. Tentara Pelajar No.3, Bogor, 16111, Jawa Barat

DOI:

https://doi.org/10.30862/psnmu.v7i1.7

Keywords:

Panili, EkoEnzim, Biopestisida, Biofertilizer, Fusarium oxysporum

Abstract

Limbah air bekas cucian beras dan limbah organik yang berasal dari kulit buah-buahan setelah difermentasikan selama 3 bulan ternyata memiliki senyawa bioaktif yang dapat berfungsi merangsang pertumbuhan tanaman dan melindungi tanaman dari serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada konsentrasi dan cara aplikasi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian tiga jenis EkoEnzim Air Cucian Beras (EE-ACB) dan cara aplikasi terhadap patogen penyebab penyakit Busuk Batang Panili (Fusarium oxysporum) secara in vitro dan viabilitas benih setek panili di rumah kaca.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase penghambatan tertinggi pada perlakuan Ekoenzim menggunakan gula merah (EE-ACB Merah) dan Ekoenzim tanpa menggunakan gula (EE-ACB Tanpa Gula) terhadap jamur Fusarium oxysporum pada konsentrasi 50% dan setelah 9 hari inkubasi mencapai 94,12% (in vitro).  Daya tumbuh dan panjang tunas terbaik pada 12 minggu setelah aplikasi didapatkan pada perlakuan interaksi antara jenis Ekoenzim menggunakan gula putih (EE-ACB Putih) dengan aplikasi perendaman dengan panjang tunas 11,22 cm. Sedangkan panjang tunas yang terendah didapatkan pada perlakuan interaksi antara EE-ACB Merah pada aplikasi perendaman dengan panjang tunas 2,90 cm. Penambahan limbah organik meningkatkan C/N ratio limbah ACB yang digunakan dan C/N ratio tertinggi didapatkan pada EE-ACB Putih yaitu 19,0. EE-ACB ini berpotensi dimanfaatkan sebagai biopestisida dan biofertilizer

Downloads

Published

2022-05-31

Issue

Section

Articles